Sedulur, Genteng - Jalan K.H. Wahid Hasyim Genteng, Banyuwangi seolah tidak pernah sepi dari kuliner tepi jalan. Setiap saat, ada saja pedagang makanan kaki lima yang membuka lapaknya di tepi jalan menuju ke Stasiun Kalisetail tersebut. Seperti pagi itu ketika fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Genteng, sebuah lapak sederhana terlihat sibuk melayani para pelanggannya. Lapak tersebut milik Pak Hamami, penjual sego gurih (nasi gurih) bakar. Hampir setiap hari selama delapan tahun, Hamami membuka lapaknya di bahu jalan itu, sekitar 500 meter ke arah selatan dari Polsek Genteng. Lapaknya berupa gerobak aluminium berwarna hitam. Sebagai atapnya, ia bentangkan terpal berwarna biru yang ia kaitkan ke dinding di belakang gerobaknya. Di koridor yang terbentuk dari gerobak, dinding, dan terpal tersebut, Hamami menempatkan meja dan kursi untuk tempat makan. Selain ciri-ciri tersebut, ia juga memasang standing banner bertuliskan “Sego Gurih Bakar” di depan gerobaknya. Sego gurih bakar Pak Hamami disajikan dalam bungkus daun pisang dengan tekstur gosong akibat terbakar. Salah satu pelanggannya Mikaila, 25 tahun, seorang karyawan Indomaret, menyebut nasi bakar tersebut punya tempat tersendiri di lidahnya. Hampir setiap pagi sebelum memulai sif kerjanya, ia jajan di lapak Pak Hamami. "Saya biasa menyebutnya nasi bakar Maron. Rasanya itu jauh lebih gurih dibanding tempat lain, dan yang paling saya suka adalah aromanya. Begitu bungkusan daun pisangnya dibuka, wangi kemangi di dalam nasinya langsung menyeruak. Benar-benar bikin nafsu makan bertambah," ujarnya antusias. Untuk memanjakan lidah pelanggan, Pak Hamami menyediakan tiga varian lauk yang membumi, tetapi kaya rempah: ayam suwir dengan bumbu meresap, ati ampela yang diolah bersih tanpa amis, dan ikan laut yang membawa sensasi khas pesisir. Semua kelezatan dan ketulusan rasa tersebut dibanderol dengan harga yang sangat ramah di kantong, yaitu Rp10.000 per bungkus. Tidak heran jika dalam kurun waktu singkat, 100 bungkus sego gurih bakar selalu ludes tak tersisa. Dalam kesempatan ini, Pak Hamami membocorkan rahasia mengapa nasinya begitu pulen dan kaya rasa. "Untuk menjaga kualitas dan rasa gurih yang asli, kami menghabiskan hampir 10 butir kelapa segar setiap harinya untuk mengolah 100 bungkus nasi. Kami tidak memakai santan instan," ungkap Pak Hamami dengan senyum hangat. Bagi masyarakat Genteng dan sekitarnya yang ingin memesan untuk acara keluarga, rapat kantor, atau takut kehabisan di pagi hari, Pak Hamami juga melayani pesanan dengan ramah melalui WhatsApp 081 337 667 484. (sdl)Baca Lainnya :
